Akhir-akhir ini dimasa pandemi banyak sekali cuitan berdatangan dari berbagai pihak, salah satunya dari para orang tua yaitu dorongan supaya pesantren membuka lembaganya dan menerima santri untuk belajar kembali, alasannya adalah ketika anaknya berada di pesantren akan lebih aman dan terkendali karena disana diberlakukan sistem.

Kita ketahui ketika santri pulang liburan pastinya mereka akan balas dendam karena dirasa Pesantren telah membuatnya sibuk untuk ibadah dan belajar. Alhasil, ketika mereka bermain dengan teman lama pun mengakibatkan sampai tidak mengenal waktu, terkadang mulai pagi keluar rumah, maghrib baru pulang, hal inilah yang ditakutkan banyak orang tua, apalagi dimasa pandemi ini harus kita kurangi aktivitas keluar rumah karena banyak resiko besar di sana

Di samping itu juga ada alasan orang tua yang lebih menonjol yaitu dirasa kegiatan daring bagi para santri sangat sulit dan berat, maklum santri sejatinya kurang ahli dalam menggunakan media, hal ini juga membuat para orang tua khawatir ketika tidak ada pendidikan agama yang mereka pelajari.

Hal demikian sangat didukung penuh oleh beberapa pihak internal pesantren, karena pihak pesantren sangat bersiap sekali dengan adanya new normal. Selain itu, juga para Ustadz ingin sekali meluapkan rasa rindu kepada para santrinya, sungguh begitu lama dua insan itu tidak lama jumpa.

Namun banyak juga kalangan pengamat yang merasa khawatir dengan adanya new normal di pesantren dengan banyak pertimbangan entah itu dari sistem social dystancing, kebersihan, dan lain sebagainya. Berkaitan dengan social dystancing atau jaga jarak ini mustahil diterapkan di pesantren, karena banyak kita ketahui bahwa tempat di pesantren sangat tidak memadai perihal digunakan untuk jaga jarak atau social dystancing. Banyaknya santri yang tinggal di tempat tersebut membuat program new normal kurang begitu berjalan, bahkan ada juga  kamar yang cuma berdiameter 3×4 dihuni santri 10 sampai 15. Sungguh ada beberapa aktivitas pesantren yang sepenuhnya tidak bisa diterapkan dengan new normal.

Hal tersebut tidak bisa dipungkiri, bahwa kebiasaan atau tradisi pesantren sangat bertentangan sekali dengan new normal (kebiaasaan baru). Seperti makan bersama, tidur bersama, dan lain sebagainya.  Apalagi santri sangat menekankan ideologi komunalisme, yaitu faham yang mementingkan kebersamaan dalam kelompok.

Lalu pertanyaannya, akankah pesantren bisa menghadapi tantangan ini? Pesantren telah hadir di Nusantara hampir berabad-abad lamanya, banyak pendapat mengatakan jikalau Pesantren berdiri sebelum Indonesia merdeka, sehingga secara otomatis bahwa Pesantren ikut campur tangan dalam urusan kemerdekaan Negara ini. Sungguh Pesantren telah menghadapi beberapa tantangan yang amat luar biasa dan alhamdulillah Pesantren bisa menghadapi semua itu. Meskipun Pesantren telah hadir sejak zaman pribumi, tapi sistem yang digunakan tetap masih eksis hingga sekarang.

Meskipun demikian, hal tersebut harus disikapi dengan adanya sinergi semua aspek Pesantren, banyak pertimbangan yang dikeluarkan oleh pihak Pesantren. Setidaknya ada dua hal yang harus diciptakan. Pertama,  harus menciptakan satuan tugas covid 19.

Satuan tugas ini nantinya bertugas khusus dalam urusan covid 19 supaya lebih menggampangkan pihak Pesantren untuk memantau kabar terupdate dari covid, yang terpenting adalah pencegahan, bagaimana bisa semaksimal mungkin untuk mencegah masuknya virus yang berbahaya ini ke dalam Pesantren, karena ketika sampai satu saja santri yang terkena virus mematikan ini maka sangat sulit membendungnya, mengingat potensi penyebaran di Pesantren sangat besar sekali. Maka dari itu, inilah pentingnya pencegahan, termasuk dengan beberapa upaya seperti ketika masuk kembali ke Pesantren harus menyertakan tes keterangan sehat, cuci tangan ketika beraktifitas, dan lain sebagainya

Kedua, penguatan pos kesehatan pesantren. Mungkin hal yang satu ini sudah dimiliki kebanyakan Pesantren diluar sana. Tapi bagaimana harus dimaksimalkan kinerjanya, ketika ada santri yang sakit harus cepat penanganannya  jangan sampai telat, karena penelitian mengatakan virus corona akan mudah masuk pada imun seseorang yang lemah, maka dari itu pemberian vitamin harus diadakan selalu. 

Jika kerjasama semacam itu bisa dikerjakan dengan totalitas dan adanya sinergitas yang kuat antara semua unsur warga pesantren, maka insyaalloh keadaan pesantren akan aman dan kondusif. Amin ya robbal alamin (yudha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.